Selasa, 04 Januari 2022

 Pedasnya Cabai Sepedas Derita Petaninya

           




 Pagi itu setelah salat subuh Padmi bergegas untuk menanak nasi dan menghangatkan sayur bekas kemarin sore yang tidak habis dimakan berdua bersama suaminya. Mereka adalah sepasang suami istri yang tinggal berdua di rumah yang sudah rusak atap dan gentingnya. Tiga anak padmi sudah berkeluarga sehingga masing-masing telah sibuk mengurus kebutuhan dirinya sendiri.

            Setelah sarapan, Padmi kemudian menyiapkan bekal untuk dibawa ke sawah bengkok milik seorang kepala dusun yang ia kelola dengan bagi hasil. Di dusun A, hal ini adalah sistem ekonomi pertanian yang lumrah dijalankan sehingga sebagian masyarakat miskin yang tidak memiliki kebun dan sawah ia akan menggarap sawah milik para pejabat-pejabat desa.

            Sebelum matahari terbit, Padmi harus segera tiba di sawah. hari itu adalah hari dimana ia akan memanen cabai yang sudah tiga bulan ia tanam dan rawat. Besar harapan ia akan mendapatkan uang guna untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

            Menit demi menit berlalu dan jam demi jam silih berganti. Berada di bawah sinar terik matahari keringat Padmi mulai bercucuran dengan deras, pakaian lusuh dan kumal yang ia pakai sesekali digunakan untuk menyeka keringat yang terus mengalir karena panas dan letih yang tidak ia hiraukan.

            Setelah istirahat siang, Padmi kembali memetik buah-buah cabai yang tampak masih hijau, satu persatu ia kumpulkan di karung bekas pakan ayam yang ia bawa dari rumah. Cabai hijau itu terpakssa ia panen karena kebutuhan harian yang semakin mendesak dan harus segera ditunaikan. Kebutuhan sehari-hari Padmi seperti untuk makan memang membutuhkan uang guna untuk membeli beras dan lauk, belum kebutuhan-kebutuhan sosial seperti kondangan dan hajatan lain yang sebagian besar telah menguras isi dompet Padmi.

            Ketika terik matahari mulai redup dan karung bekas telah terisi hampir penuh, Padmi berhenti untuk memtik cabai, pikirnya ia akan segera beranjak pergi ke rumah Pongge seorang pedagang yang cukup terkenal di desa agar hasil panennya dapat dengan segera ia tukar dengan rupiah. Padmi pun segera menuju ke rumah Pongge. Sesampainya di sana, Padmi tanpa basa basi langsung menuju Pongge yang sedang duduk sembari menatap Padmi yang terlihat lusuh karena keringat yang telah mengering.

“Buk, tolong beli cabai saya ya...”pinta Padmi

“ini cabai masih hijau, saya hanya bisa beli sepuluh ribu perkilonya, coba ditimbang dulu ada berapa kilo” kata Pongge sambil menunjuk ke arah timbangan.

Timbangan digital segera dinyalakan dan diletakkanlah cabai hasil panen yang dibawa Padmi di atas timbangan itu.

“empat belas Kilo mbok” kata Pongge, sambil menghitung jumlah uang yang harus ia bayarkan ke Padmi.

“ini uangnya seratus empat puluh ribu ya,,,” Pongge menyodorkan uang pecahan seratus ribuan dan empah pecahan sepuluh ribuan.

“mbak tambah sepuluh ribu ya,,,”kata Padmi memelas.

“wah ngga bisa mbok, harganya memang segitu” jawab Pongge.

            Dengan wajah kecewa Padmi menerima uang yang dibayarkan Pongge. sembari berjalan menjauh dari rumah Pongge, pikirannya sekarang terlintas menuju ke rumah kepala dusun untuk membagi hasil panennya.

Sesampaianya di rumah kepala dusun padmi menuju pintu rumah dan mengetuknya pelan.

“Assalamualaikum” Padmi mengucap salam.

“Wa’alaikumsalam” jawab kepala dusun dari dalam rumah, sambil berjalan menuju pintu depan rumah.

“eeee,,,,mbok padmi silahkan masuk mbok” pinta kepala dusun

Padmi pun masuk dan dengan segera duduk bersimpuh di lantai rumah kepala dusun.

“kok duduk di bawah, sini lo mbok,,,,duduk di kursi” pinta kepala dusun.

“nggih maturnuwun,,,disini ja pak” tolak Padmi dengan halus.

“pak saya kesini mau setor uang bagi hasil sawah, tadi alhamdulillah saya panen cabai dapat uang seratus empat puluh ribu” kata Padmi sambil menyerahkan lembaran uang kepada kepala dusun.

“oh ya mbok, sesuai perjanjian ya... saya tujuh puluh ribu, mbok tujuh puluh ribu” kata kepala dusun sembari mengulurkan uang tujuh puluh ribu dari saku bajunya.

“ya pak, terima kasih. Kalau begitu saya pamit” kata Padmi sambil undur diri.

“Ya mbok sama-sama, hati-hati dijalan ya...” jawab kepala dusun mempersilahkan Padmi untuk meninggalkan rumahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Warga Desa Menjadi Waspada

  Seminggu yang lalu aku dihubungi oleh temanku, seorang enumerator lembaga survey freelance yang bekerja untuk menghimpun data penelitian d...