Seminggu yang lalu aku dihubungi oleh temanku, seorang
enumerator lembaga survey freelance yang bekerja untuk menghimpun data
penelitian di lapangan. Berhubung ada pekerjaan yang bersamaan ia memilih untuk
mengambil proyek penelitian di lembaga survey pemerintah, untuk yang swasta ia
menyerahkan kepadaku. Sebenarnya aku sudah tidak mau kembali menjadi enumerator
atau pencacah lapangan karena memang waktuku sudah banyak terkuras di sekolah
dan juga mengurusi usaha jasa roasting kopi, tapi karena permintaan teman untuk
membantu akhirnya aku pun menyanggupi dan mengiyakan permintaan temanku itu.
Setelah mendapatkan pelatihan lewat online selama dua hari,
akhirnya hari yang ditunggu untuk terjun ke lapangan tiba. Pertama aku memilih
blok sensus yang dekat dengan rumahku. Pertama untuk menjajal aplikasi CAPI
yang terpasang di handphoneku sehingga jika ada kesalahan dan hal yang perlu
diperbaiki bisa sekalian dilakukan di hari selanjutnya.
Aku pun berangkat pagi sekitar jam 07.30, setelah perjalanan
sekitar 5 menit mengendarai sepeda motor, aku merasakan ban motor yang aku
kendarai tidak berjalan maksimal dan ternyat memang ban motorku kempes dan
merekah sobek di beberapa bagian. Setelah mengganti ban dan merasa cukup aman
aku pun melanjutkan perjalanan ke dusun S di Desa P yang aku tempuh sekitar 20
menit perjalanan.
Setelah sampai di Desa P aku pun mencari penduduk sekitar
untuk menanyakan rumah kepala desa setempat untuk meminta ijin dan
memberitahukan perihal survey yang akan aku lakukan di Dusun S. Berhubung aku
memilih hari sabtu, maka aku harus mendatangi rumah kepala desa dikarenakan
kantor Desa tutup untuk hari sabtu dan minggu.
Setelah bertanya kepada masyarakat setempat dan ditunjukkan
rumah kepala desa aku pun segera menuju kerumahnya, tapi aku hanya menjumpai
ayah kepala desa dan menyampaiakan bahwa pak kades baru saja pergi.
Mendapati informasi yang diberikah ayah pak kades aku pun
langsung menuju ke dusun S guna untuk menemui pak kadus dan memberitahu tentang
survey yang akan aku lakukan. Setelah sampai ke rumah pak kadus, ternyata pak
kadus tidak ada di rumah kata anaknya yang bernama Ipin.
Setelah menjelaskan maksud dan tujuanku dengan sigap anak
pak kadus menawarkan diri untuk mengantarku ke rumah-rumah responden, semula
dua orang responden lancar dan sukses. Ketika tiba di rumah responden yang
ketiga aku ditanya macam-macam seperti: ini survey dari lembaga apa? Sudah ijin
pak kades dan pak kadus atau belum? Membuatku gugup dan takut. Calon responden
ini pun menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud untuk mempersulit pekerjaanku akan
tetapi ia hanya takut jika aku melakukan sesuatu yang dapat merugikan warga di
dusunnya, mengingat sudah berkali-kali warga dusun S menjadi korban baik
penipuan atau pencurian yang dilakukan oleh oknum yang seolah-olah menjadi
sales atau petugas survey.
Seketika aku berpikir, pasti ini akan menjadi masalah. Salahku
juga aku datang nekat tanpa ijin dari pejabat setempat padahal sudah
diwanti-wanti oleh supervisorku.
Ketika calon responden menelepon sekretaris desa dan
melaporkan keberadaanku dirumahnya aku sedikit lega karena aku sangat familiar
dengan suara yang diteleponnya. Itu pasti pak T kenalanku yang juga paman dari
temanku. Benar saja ketika aku tanyakan ke calon responden dia mengatakan bahwa
itu pak T dan aku pun segera meminta ijin untuk berbicara dengan pak T dan
memberitahu keadaan yang sebenarnya.
Setelah pak T memberikan penjelasan kepada calon responden,
alhamdulillah ia pun bisa memahami dan dengan cepat meminta maaf kepadaku. Setelah
itu ia pun berubah drastis dari semula yang garang dan menyebalkan kembali menjadi
masyarakat desa yang ramah dan baik hati.
Hal ini menunjukkan bahwa warga desa pun kini sudah
beradaptasi dan sangat waspada kepada setiap orang baru yang masuk ke
wilayahnya, tentu fenomena ini dikarenakan banyaknya kasus yang meresahkan dan
merugikan warga. “sekarang itu banyak orang pintar, tapi kepintarannya itu
untuk membodohi sesama” kata calon responden yang terus teringat di pikiranku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar