Sabtu, 12 Februari 2022

Ketika Warga Desa Menjadi Waspada


 

Seminggu yang lalu aku dihubungi oleh temanku, seorang enumerator lembaga survey freelance yang bekerja untuk menghimpun data penelitian di lapangan. Berhubung ada pekerjaan yang bersamaan ia memilih untuk mengambil proyek penelitian di lembaga survey pemerintah, untuk yang swasta ia menyerahkan kepadaku. Sebenarnya aku sudah tidak mau kembali menjadi enumerator atau pencacah lapangan karena memang waktuku sudah banyak terkuras di sekolah dan juga mengurusi usaha jasa roasting kopi, tapi karena permintaan teman untuk membantu akhirnya aku pun menyanggupi dan mengiyakan permintaan temanku itu.

Setelah mendapatkan pelatihan lewat online selama dua hari, akhirnya hari yang ditunggu untuk terjun ke lapangan tiba. Pertama aku memilih blok sensus yang dekat dengan rumahku. Pertama untuk menjajal aplikasi CAPI yang terpasang di handphoneku sehingga jika ada kesalahan dan hal yang perlu diperbaiki bisa sekalian dilakukan di hari selanjutnya.

Aku pun berangkat pagi sekitar jam 07.30, setelah perjalanan sekitar 5 menit mengendarai sepeda motor, aku merasakan ban motor yang aku kendarai tidak berjalan maksimal dan ternyat memang ban motorku kempes dan merekah sobek di beberapa bagian. Setelah mengganti ban dan merasa cukup aman aku pun melanjutkan perjalanan ke dusun S di Desa P yang aku tempuh sekitar 20 menit perjalanan.

Setelah sampai di Desa P aku pun mencari penduduk sekitar untuk menanyakan rumah kepala desa setempat untuk meminta ijin dan memberitahukan perihal survey yang akan aku lakukan di Dusun S. Berhubung aku memilih hari sabtu, maka aku harus mendatangi rumah kepala desa dikarenakan kantor Desa tutup untuk hari sabtu dan minggu.

Setelah bertanya kepada masyarakat setempat dan ditunjukkan rumah kepala desa aku pun segera menuju kerumahnya, tapi aku hanya menjumpai ayah kepala desa dan menyampaiakan bahwa pak kades baru saja pergi.

Mendapati informasi yang diberikah ayah pak kades aku pun langsung menuju ke dusun S guna untuk menemui pak kadus dan memberitahu tentang survey yang akan aku lakukan. Setelah sampai ke rumah pak kadus, ternyata pak kadus tidak ada di rumah kata anaknya yang bernama Ipin.

Setelah menjelaskan maksud dan tujuanku dengan sigap anak pak kadus menawarkan diri untuk mengantarku ke rumah-rumah responden, semula dua orang responden lancar dan sukses. Ketika tiba di rumah responden yang ketiga aku ditanya macam-macam seperti: ini survey dari lembaga apa? Sudah ijin pak kades dan pak kadus atau belum? Membuatku gugup dan takut. Calon responden ini pun menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud untuk mempersulit pekerjaanku akan tetapi ia hanya takut jika aku melakukan sesuatu yang dapat merugikan warga di dusunnya, mengingat sudah berkali-kali warga dusun S menjadi korban baik penipuan atau pencurian yang dilakukan oleh oknum yang seolah-olah menjadi sales atau petugas survey.

Seketika aku berpikir, pasti ini akan menjadi masalah. Salahku juga aku datang nekat tanpa ijin dari pejabat setempat padahal sudah diwanti-wanti oleh supervisorku.

Ketika calon responden menelepon sekretaris desa dan melaporkan keberadaanku dirumahnya aku sedikit lega karena aku sangat familiar dengan suara yang diteleponnya. Itu pasti pak T kenalanku yang juga paman dari temanku. Benar saja ketika aku tanyakan ke calon responden dia mengatakan bahwa itu pak T dan aku pun segera meminta ijin untuk berbicara dengan pak T dan memberitahu keadaan yang sebenarnya.

Setelah pak T memberikan penjelasan kepada calon responden, alhamdulillah ia pun bisa memahami dan dengan cepat meminta maaf kepadaku. Setelah itu ia pun berubah drastis dari semula yang garang dan menyebalkan kembali menjadi masyarakat desa yang ramah dan baik hati.

Hal ini menunjukkan bahwa warga desa pun kini sudah beradaptasi dan sangat waspada kepada setiap orang baru yang masuk ke wilayahnya, tentu fenomena ini dikarenakan banyaknya kasus yang meresahkan dan merugikan warga. “sekarang itu banyak orang pintar, tapi kepintarannya itu untuk membodohi sesama” kata calon responden yang terus teringat di pikiranku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Warga Desa Menjadi Waspada

  Seminggu yang lalu aku dihubungi oleh temanku, seorang enumerator lembaga survey freelance yang bekerja untuk menghimpun data penelitian d...